Ahmad Nurhasim - Wajah Retak Media. PDF

PDF Pewarta Menapak Jalan Kelam

"Kebebasan berekspresi dan pers dihadapkan pada pembunuhan, penculikan, tekanan, intimidasi, penahanan jurnalis, penghancuran fasilitas, kekerasan dalam berbagai bentuk, dan pengampunan bagi pelaku. Semua itu harus diselidiki secara mendalam dan diputuskan secara adil" (Deklarasi Chapultepec)

Setiap 3 Mei, insan pers di dunia boleh sedikit bernapas lega. Sejenak melupa segala tekanan terhadap para penyampai berita, pengabar kebenaran. Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 3 Mei sebagai Hari Kebebasan Pers Internasional.

Awalnya "penghargaan" itu sebagai peringatan pernyataan kebebasan pers para jurnalis di Afrika tahun 1991 yang dikenal dengan Declaration of Windhoek. Deklarasi tersebut merupakan hasil pengamatan panjang dan tajam terhadap beragam masalah yang dihadapi media cetak di Afrika. Intimidasi, penahanan jurnalis, serta sensor meneror dan menghantui seluruh Afrika. Atas dasar kepercayaan terhadap independensi pers dan kesuksesan pelaksanaan demokrasi, deklarasi tersebut menyuarakan kebebasan, independensi, dan pluralistik media di seluruh dunia. Deklarasi ini juga menyatakan kebebasan pers penting untuk demokrasi dan peletakan landasan hak asasi manusia.

Peringatan Hari Kebebasan Pers bertujuan merayakan prinsip fundamental kebebasan pers. Juga menilai kebebasan pers di seluruh dunia, melindungi media dari penyerangan terhadap independensi, dan penghargaan terhadap para pekerja media yang kehilangan nyawa dalam tugas jurnalistik.

Dalam setiap perayaan Hari Kebebasan Pers Internasional, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), menganugerahkan Guillermo Cano World Press Freedom Prize pada individu atau lembaga yang berani menyuarakan kebebasan pers, khususnya mereka yang menghadapi bahaya dalam menjalankan kegiatan tersebut. Guillemo Cano adalah jurnalis Kolombia yang terbunuh di depan kantornya, harian El Espectador, di Bogota pada 17 Desember 1986. Tulisan Cano banyak menyerang perdagangan narkoba di Kolombia.

Dalam kehidupan nyata, kekerasan dan teror terhadap pewarta tak juga terhenti. Reporters Without Borders mencatat dalam setahun (2006) 82 jurnalis dan 32 pekerja media tewas dalam tugas jurnalistik. Irak menjadi ladang pembantaian utama pewarta. Sepanjang tahun 2006, 64 insan pers tewas di negeri yang membara tersebut. Angka itu melejit dari tahun sebelumnya yang "hanya" 29 nyawa melayang.

Lokasi konflik merupakan tempat paling berbahaya bagi jurnalis. Namun, sesungguhnya jurnalis yang berkecimpung dalam isu kemanusiaan, yang melindungi hak masyarakat sipil dan berhadapan dengan militer, menghadapi bahaya yang jauh lebih tinggi. Serasa belum lenyap dari ingatan, Udin, wartawan harian Bernas, meregang nyawa karena mencoba bekerja "dengan baik": mengungkap kebusukan dan mengabarkannya. Pengusutan kasus itu jadi berbelit, rumit, dan akhirnya menguap tanpa pernah tuntas.
Dalam memilih sikap, jurnalis sering harus berhadapan dengan hukum. Sebagai contoh, dua jurnalis menjadi pesakitan dan dihukum tiga tahun penjara oleh Pengadilan Casablanca, karena dianggap menghina agama dalam artikel di sebuah majalah di Maroko.

Tahun 1997 UNESCO melahirkan resolusi antikekerasan terhadap jurnalis. Isinya antara lain, "setiap orang memiliki hak atas kebebasan beropini dan berekspresi". Hak tersebut termasuk kebebasan atas opini yang diyakini tanpa intervensi pihak mana pun, serta mencari, menerima, dan menyebarkan informasi dan ide melalui berbagai media tanpa halangan apa pun.

Namun, kenyataan sering jauh dari harapan. Seluruh persoalan yang tertuang dalam Deklarasi Chapultepec masih saja terjadi dan menimpa pewarta di seluruh penjuru dunia. Pemantapan kekuasaan, uang, bahkan pertentangan idealisme merupakan benturan abadi yang dihadapi jurnalis. Memang, menyuarakan kebenaran dan keadilan adalah jalan panjang, kelam, dan sunyi. (lits)

Tags: download, ahmad nurhasim, ebook, pdf, wajah retak media

download Ahmad Nurhasim Wajah Retak Media PDF

Download from mirrors